Kali ini jalan agak jauh. Dan saia berasa tau jalan itu. Eh ternyata itu jalan potong ke Kokem (Kota Kembang, red). Hehe, pantesan tau. Ternyata nama jalan itu adalah Jalan Dalem Kaoem. Kaoem sendiri dalam bahasa tradisional berarti mesjid atau tempat beribahadah yang diambil dari bahasa Arab. Padahal dalam bahasa Arab sendiri, kaoem itu artinya orang yang beribadah. Jadi yan bener yang mana? Kagak tau juga. Jalan Dalem Kaoem ini disebut sebagai kawasan Regol (kalo dulu Regal, dari bahasa Belanda yang artinya bangsawan)yaitu kawasan yang ditempati oleh pada pegawai bupati. Di Jalan Dalem Kaoem ini ada sebuah bangunan yang namanya Lido. Yang unik dari bangunan ini adalah bahwa dia dibangun di atas sungai! Kalo diliat dari depan siy, gak bakalan keliatan. Tapi kalo dari belakang, baru deh nyadar. Bangunan ini dulunya adalah sebuah toko rotan yang dibangun pada tahun 1900-an. Selain itu, di kawasan ini juga terdapat bioskop untuk pribumi. Pun pribumi yang boleh masuk adalah pribumi yang elit. Bioskop itu sekarang udah berubah menjadi 3 ruko. Yang satu jadi bengkel, yang satu jadi toko roti, dan yang satunya lagi gak jelas.
My comment : ternyata jalan yang sering saia lewati ini punya banyak cerita..
Jalan Dalem Kaoem
rumah di atas sungai yang saia bilang, tapi bagian depannya
foto yang nunjukkin kalo bangunan ini ada di atas sungai ilang
TT
3 bangunan yang dulunya adalah bioskop untuk pribumi
Selamat datang di Dian Kencana Futsal Club. Eeh?? Mau main futsal? Bukan! Dian Kencana Futsal Club ini dulunya adalah bioskop Dian yang telah beralih fungsi. Gak banyak yang bisa saia certain
My comment : sebenarnya gedungnya itu keren banget. Tapi sekarang kondisinya udah memprihatinkanJ dan alih fungsinya yang sangat melenceng. Padahal kalo masih dimanfaatin sebagai gedung pertunjukkan atau gedung lainnya, pasti lebih keren.
tampak depan
bagian dalam - 1
bagian dalam - 2
bagian dalam - 3
bagian dalam - 4
setuju kan ama komen saia?
Di dekat Bioskop Dian, ada pendopo.Seperti lazimnya pemerintahan yang lain, Jawa Barat juga punya pendopo. Pendopo ini dibangun berbarengan dengan pindahnya pusat pemerintahan pada tahun 1810. Dan hebatnya,bangunan tersebut masih sama dengan yang dulu. Pendopo ini juga sekaligus rumah dinas walikota Bandung. Makanya, kalo hari-hari biasa, gak semua orang bisa masuk.
My comment : kita beruntung bisa masuk! Hehe.
Lalu ada alun-alun yang dulu namanya Aloon –Aloon Zuid (gak dijelasin apa artinya. Atau saia yang gak denger?). alun-alu ini menggunakan konsep Hindu-Jawa yang dulunya merupakan sebuah kawasan yang memiliki 4 unsur, yaitu pusat pemerintahan (diwakili pendopo), ibadah (karena mayoritas adalah muslim maka diwakili oleh mesjid), edukatif (diwakili oleh pegadilan dan penjara) dan hiburan (diwakili pasar). Dulu, di lapangan Mesjid Raya Bandung, sering ada pertandingan olahraga. Untuk mesjidnya sendiri, dibangun pada tahun 1810 dengan bentuk atapnya yang runcing ke atas dan disebut ‘balai nyuncung’ dan sering dipakai untuk akad nikah. Makanya, ada cerita kalo kita ngomong “ke balai Nyuncung yok!” ama orang yang kita taksir, itu artinya kita ngajak nikah. Hehehe. Romantic juga…
My comment : seperti kebanyakan bangunan zaman dulu, Mesjid Raya Bandung yang sekarang jug a gak kerawat. Halamannya terlalu ‘riweh’ dengan banyaknya pedagang.
Itu dia nama acara yang saia ikuti hari Minggu, 18 April 2010 kemaren. Plezier Gedong Merdeka sendiri dibuat oleh Mooibandoeng, Plezier Compagnie dan anak Aleut sebagai pemandunya. Tapi maap, saia lupa apa kepanjangan dan makna dari 2 nama yang saia sebut tadi. Hehe.
Acara dimulai jam 9 dengan melakukan heregister sebelumnya di jam 8. Untuk pendaftaran sendiri, saia lupa dibuka mulai kapan, karena saia sendiri di daftarin ama teman saia (Della, red) dengan membayar IDR 35000, termasuk breakfast, pin dan sertifikat. Saia pergi bareng teman saia (Della, Imaey dan Shelly, red) plus beberapa senior yang sebenarnya kita gak janjian, tapi ternyata ada di kelompok yang sama (kelompok 9, red) dan teman-teman dari Talkom Family (Poltek Telkom, red). Karena banyaknya tempat ya
ng kita datangi, tulisan ini akan di bagi menjadi beberapa bagian. Okok..
And the story begin…
Dimulai dari gedung New Majestic. Gedung ini dibangun oleh Schumacer (bukan Schumacer pembalap itu) yang berfungsi sebagai bioskop. Tapi, yang bisa nonton disini hanya orang-orang jetset nya Belanda. Untuk kelasnya sendiri, ada 3. Yaitu kelas 1 yang ada di depan panggung, kelas 2 ada di tengah dan kelas 3 yang ada di balcon (atas, red) yang dilengkapi dengan meja dan fasilitas lainnya yang jelas beda dengan kelas-kelas lainnya. Majestic sendiri artinya dewa waktu. Dulu, di depan gedung Majestic ada tulisan “orang pribumi dan anjing dilarang masuk” dalam bahasa Belanda yang artinya menyamakan rakyat pribumi dengan anjing. Ck ck ck ck… sekarang, New majestic digunakan sebagai café dan tempat untuk meeting, wedding atau pagelara.
My comment : tampat ini bagus. Sayang, untuk penggunaannya digunakan tarif yang mahal banget. Selain itu, sebenarnya kalo diterusin sebagai bioskop, bakalan jadi bioskop yang keren banget.
bagian depan
mejeng di dalem bareng teman saia
Next, kite pergi k e titik “0 KM” nya Kota Bandung. Letaknya gak jauh dari Gedung New Majestik dan tepat berhadapan dengan Gedung Kantor Keuangan Kota Bandung. Sebenarnya, titik nol KM itu adalah bekas dari tempat ditancapnya tongak Mr Deandels. Jadi ceritanya, waktu Adipati Wiranatakusumah II lagi meresmikan sesuatu (saia lupa, L) Mr Deandels jalan ke daerah itu (dulu namanya Rode Postweght) dan melihat daerah sekitar, dia ngomong “ Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangu sebuah kota “(dalam bahasanya). di titik “0 KM” itu sendiri ada sebuah kereta api, yang katanya asli dari tahun 1900-an.
tugu yang jadi tanda 0 KM nya Bandung
prasasti
kereta api deket tugu 0 Km. asli dari sejak tahun pembuatannya (saia lupa tanggalnya)
ini dia pemandu kita.
namanya Teh Shelly dan Kang Unag (terima kasih kang teh ^^)
Selanjutnya kita jalan ke Hotel Preanger. Hotel ini adalah hotel yang digunakan oleh para peserta Konferensi Asia Afrika (KAA, red). Awalnya, pada tahun 1825 Preanger masih merupakan rumah-rumah kecil yang disewakan. Kemudian berikutnya berganti nama menjadi Hotel Tiyem (atau Tiyen?) dan tahun 1898 berganti lagi menjadi Preanger. Preanger sendiri berasal dari kata Priangan. 1928 dilakukan pemugaran terhadap gedungnya menjadi lebih modern dengan Schumacer (lagi) sebagai arsiteknya dan Ir. Soekarno membantu proses penggambaran. Pada sebelah kiri bagian depan hotel, terdapat lampu berbentuk persegi yang berasal dari zaman dulu dan disebut lampu gas, karena memakai gas sebagai bahan bakarnya (zaman itu belum ada listrik, red). Dari Hotel Preanger menuju Gedung Merdeka, para peserta KAA berjalan dan dikenal dengan nama Bandung Historical Walk.
Tujuan berikutnya dalah Hotel Savoy Homann. Dinamakan demikian, karena pemilik awalnya bernama Albert Homann. Tahun 1870 Hotel Savoy Homann masih berupa rumah panggung lalu direnovasi pada tahun 1890 oleh Gothic dan tahun 1937 dilakukan lagi renovasi oleh Aalbers menjadi bentuk yang kita lihat sekarang. Hotel Savoy Homaan merupakan hotel yang sangat terkenal. Charlie Caplin adalah salah satu artis yang sering nginap disana. Dan yang paling gres, adalah Christian Bautista yang kebetulan saia juga melihatnya.
Di sebelah Hotel Savoy Homann, ada banguna tinggi. Namanya Toko De Vries. Toko serba ada yang pertama ada di Bandung dan merupakan konsep awal mall yang ada di Bandung. O iya, dan toko pertama pada zamannya yang memiliki toilet di dalam toko. Dari Toko De Vries ini dapat dilihat bahwa bangunan zaman dulu, khususnya yang berada di persimpangan, pastipunya monument. Di depan toko ini, juga ada sebuah banguna tua (saia lupa namanya) yang pada tahun 1902 di pakai oleh H Dunlop (yang punya merk ban Dunlop itu loh!).